Rabu, 04 Mei 2011

MEMILIH BENIH KELAPA SAWIT

Benih Kelapa Sawit

Sasaran  utama perkebunan kelapa sawit adalah memperjuangkan YIELD TBS ( produktifitas TBS ton per hektar) atau YIELD MINYAK (produktifitas CPO ton per hektar ) yang setinggi tingginya.                                                                                                                                            Faktor faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produktifitas tanaman, diantaranya adalah kualitas dan karakteristik bahan tanaman (benih) ditanam, faktor lingkungan dan penerapan kultur teknis.      
                                                                                                                                                              Bila berbicara tentang benih, tentu semua sumber benih yang ada di Indonesia akan menawarkan mutu benih kelapa sawit yang unggul dan menampilkan potensi produksi yang mengagumkan. Lantas bagaimana kita memilih yang terbaik ? Semua baik, unggul dan mempunyai POTENSI GENETIK  untuk berproduksi tinggi. Perbedaan dari masing masing industri benih adalah  Bagaimana Kualitas Benih mereka itu dibangun pada setiap elemen S-U-P-O-C dari sejak proses pengelolaan pohon induk dura dan pohon bapak pisifera (S = Seed Garden), proses pemuliaan tanaman (U = uniformity), proses pengolahan benih (P = Process), dan hasil proses (O = Output) serta pemasaran hingga ketangan pembeli (C = Customers)

Rangkaian Proses Mutu Benih - SUPOC


Untuk diketahui, di dunia terdapat empat jenis persilangan dan produksi benih kelapa sawit yang dikembangkan, yakni :

1)   Konvensional DxP
2)   Klon
3)   Benih Klonal
4)   Interspecific Hybrid Planting Materials

Produksi benih kelapa sawit Konvensional adalah

Dura x Pisifera (DxP)

Sumber utama Dura

Kebanyakan berbasis pada  Deli dura yang berasal dari

– Chemara, Banting, DOA/MARDI/MPOB, Dami, Socfindo, Dabou

Sedangkan Sumber utama Pisifera

– AVROS, NIFOR (Calabar), Ekona, Yangambi, La Me

Benih kelapa sawit yang dipasarkan di Indonesia adalah jenis konvensional D x P, sedangkan tiga jenis lainnya belum dapat dijumpai di pasar.
Kemanapun dicari, selama sumber benih masih melakukan persilangan dengan cara konvensional, maka pada dasarnya semua adalah sama. Tujuan utama para peneliti di setiap sumber benih adalah menjawab tantangan yang harus dipenuhi agar selaras dengan sasaran perkebunan seperti dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Sumber : Kushairi A., and Rajanaidu, N. Malaysian Palm Oil Board


Tantangan tersebut diatas  adalah objectives bagi semua industri perkebunan dan sekaligus menjadi pedoman untuk memilih industri benih. Sumber benih mana yang sudah mengarah kepada pencapaian dalam memenuhinya, atau setidaknya ada beberapa point yang sudah berhasil dipenuhi.POTENSI GENETIK adalah sangat penting, karena ia berperan sebagai salah satu faktor pembatas dalam perolehan yield. Namun jangan lupa, bahwa seperti yang telah disinggung dimuka, ada faktor penghambat lain yang akan mempengaruhi POTENSI PRODUKSI yang pada akhirnya akan menentukan ACTUAL YIELD yang bisa dicapai; yaitu
     Penguasaan Teknis Agronomis yang benar
     Kehandalan Management dalam supervisi lapangan
     Kesiapan Dana untuk mengadakan input material dengan tepat
     Sumber Daya Manusia

Apabila diasumsikan bahwa Seleksi Lokasi dan Seleksi Lahan dan hal lain diluar dari benih sudah dilakukan dengan benar, maka fokus hanya pada bagaimana memperoleh benih unggul untuk matching dengan objective atau sasaran pokok perkebunan.
Sistem Produksi Benih
Sistem produksi benih kelapa sawit pada dasarnya merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari beberapa proses, meliputi (1) proses pengelolaan pohon induk dura dan pohon bapak pisifera, (2) proses pemuliaan tanaman, dan (3) proses processing benih, serta (4) proses pemasaran.
Proses Pemuliaan Tanaman memiliki fungsi untuk menyediakan Kandidat Tetua dura dan Tetua pisifera yang merupakan output dari program seleksi. Proses pengelolaan pohon induk memiliki fungsi untuk mengelola seluruh kegiatan di pohon induk dura yang ditujukan untuk menghasilkan tandan benih, mulai dari penyediaan dan prosesing tepung sari (polen), pengamatan identitas bunga hingga pemanenan tandan benih.
Proses processing benih berfungsi untuk mengolah tandan benih yang dihasilkan menjadi kecambah siap salur dengan tetap mempertahankan aspek kemurnian varietas¬nya (tidak terkontamonasi Dura). Sementara itu, unit kerja pemasaran bertanggung jawab terhadap penyaluran bahan tanaman hingga ke tangan konsumen, dan secara pro aktif melakukan kegiatan pelayanan purna jual bahan tanaman tersebut kepada para konsumen.
Prosedur Pemuliaan Tanaman
Secara umum, pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Untuk dapat menghasilkan dan mengembangkan varietas kelapa sawit, setiap sumber benih kelapa sawit harus memiliki beberapa hal sebagai berikut :
a. Populasi dasar dura dan tenera/pisifera
Proses pemuliaan kelapa sawit berawal dari pembentukan populasi dasar yang terdiri atas pohon induk dura, tenera, dan pisifera dari berbagai orijin di tingkat seleksi. Jumlah dan jenis orijin/famili yang digunakan oleh setiap sumber benih dapat berbeda, bergantung pada arah pemuliaan dan kapasitas benih yang akan dihasilkan.
Ketersediaan populasi dura dan populasi tenera/pisifera menjadi penting bagi sumber benih karena berkaitan dengan kesinambungan program pemuliaan. Dengan demikian diharapkan sumber benih dapat melakukan aktivitas pemuliaannya (perakitan dan pengembangan varietas) secara independen, tanpa bergantung pada institusi lain. Hal penting lainnya dalam pembentukan populasi dasar ini adalah ketersediaan informasi pedigree (silsilah keturunan) yang jelas dari masing-masing orijin/famili dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
b. Prosedur Pemuliaan
Dalam bidang pemuliaan tanaman dikenal berbagai skema seleksi, dan yang sering digunakan pada pemuliaan kelapa sawit adalah reciprocal recurrent selection (RRS) dan modified recurrent selection (MRS). Secara umum, di setiap prosedur pemuliaan kelapa sawit terdapat tahapan inti mencakup pembentukan populasi dasar, evaluasi, seleksi, serta rekombinasi.
Dari populasi dasar yang telah dibentuk dilakukan suatu tahapan evaluasi melalui pengujian keturunan (progeny test) untuk menganalisis dan menentukan persilangan terbaik yang akan direproduksi berdasarkan nilai daya gabung umum (GCA) dan daya gabung khusus (SCA) dari tetua (progenitor) yang diuji. Berdasarkan informasi daya gabung tersebut tersebut dilakukan seleksi untuk menentukan tetua-tetua yang dapat dijadikan pohon induk untuk produksi benih.
Selain untuk menentukan materi pohon induk, pada tahapan seleksi ini juga dilakukan pemilihan tetua yang akan direkombinasikan untuk mencari materi persilangan dengan potensi yang lebih baik yang digunakan pada siklus pemuliaan berikutnya. Melalui rekombinasi diharapkan dapat membentuk suatu populasi dasar baru dengan sifat-sifat yang lebih baik dari populasi dasar sebelumnya.
c. Proses pengujian keturunan (progeny)
Pengujian keturunan merupakan rangkaian percobaan yang dirancang untuk menilai dengan akurat keragaan hibrida (persilangan). Pengujian ini merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan oleh setiap sumber benih, karena materi yang sampai ke tangan konsumen adalah hibrida DxP.
Pengujian dilakukan mengikuti metode statistik baku, mencakup perancangan percobaan (jumlah persilangan, jumlah ulangan, jumlah individu, standard cross ), masa pengamatan (minimal selama 6 tahun setelah tanam), lokasi percobaan (dilakukan minimal pada 3 lokasi), dan metode analisis data yang digunakan untuk memprediksi nilai hibrida DxP yang akan direproduksi.
Proses produksi Benih
Pohon induk/bapak yang digunakan untuk menghasilkan benih komersial dilakukan dengan mereproduksikan persilangan terbaik yang telah diuji pada pengujian progeny. Cara pemilihan pohon induk/bapak yang dapat diperoleh melalui perkawinan sendiri (selfing) maupun rekombinasi intra-grup.
Namun demikian untuk memperoleh gain selection lebih tinggi biasanya dilakukan seleksi intra-persilangan terhadap karakter-karakter yang dianggap akan lebih menguntungkan konsumen, seperti pertumbuhan meninggi yang lebih lambat. Selain itu selection pressure ditujukan untuk mendapatkan keseragaman yang lebih tinggi pada tanaman yang dihasilkan. Adapun pengamatan produksi dan kualitas tandan lebih ditujukan untuk kelanjutan program seleksi yaitu dengan cara memilih pohon induk yang baik dan telah diketahui karakteristik genotipenya.
Setiap calon pembeli benih sudah selayaknya memahami sistim produksi benih agar dalam memilih sumber benih dapat diselaraskan dengan objectives perkebunannya.
Perlu diingatkan selalu bahwa Objectives atau sasaran pokok sebuah perkebunan kelapa sawit adalah :
      1.       Produktifitas yang setinggi tingginya
      2.       Kualitas yang di minati oleh pasar
      3.       Biaya produksi yang rendah
Benih seperti apa yang dapat matching dengan objectives tersebut diatas ? Pertanyaan inilah yang perlu digali jawabannya dari sumber benih. Dengan berpedoman pada tantangan yang harus dipenuhi oleh sumber benih dan berbekal pengetahuan tentang prosedur pemuliaan tanaman, maka kita dapat menilai sumber benih mana yang paling mendekatinya.
Sudah tentu semua sumber benih akan memberikan unjuk performa yang nampaknya pas untuk mendukung objectives tersebut. Untuk memastikan bahwa sumber benih yang dipilih adalah memang akan dapat memenuhi harapan, maka langkah awal yang perlu dilakukan oleh calon pembeli benih adalah:
Kunjungi Lokasi Sumber Benih.
            1. Perhatikan dan amati, bahwa sumber benih yang bersangkutan secara fisik memiliki fasilitas yang memadai untuk menghasilkan benih dengan Potensi Genetik yang unggul dan berkualitas.
            2. Perhatikan dan amati, pohon induk yang ditanam dan tanyakan asal usul keturunannya. Sebagai contoh, secara kasat mata dapat dilihat bahwa induk yang tinggi tentu tidak akan menghasilkan turunan yang pendek (dwarf palm). Dapat juga dilihat tinggi batang berbanding dengan umur pohon, sehingga dapat dihitung rata rata pertumbuhan meninggi per tahun.
            3. Perhatikan dan amati pohon progenynya. Disamping melihat pertumbuhan meninggi, juga dapat dilihat rata rata jumlah tandan per pohon (high productivity).
            4. Perhatikan dan amati proses processing benih dan cara perlakuan dalam seleksi biji calon kecambah.
            5. Diskusikan dengan pemulia semua hal yang ingin diketahui, termasuk after sales service
Hal hal lain yang tidak kasat mata tentu sulit didapat dan pengamatan yang dilakukan diatas hanya merupakan indikasi untuk bahan diskusi dengan sumber benih.
Yang penting harus disadari adalah bahwa benih bersifat MONUMENTAL, salah memilih benih hari ini..., berarti kita menanggung konsekuensi kerugian ekonomis selama 30 tahun.
Benih Palsu
Benih palsu adalah benih yang diproduksi tidak mengikuti standar proses produksi benih seperti yang lazim dilakukan oleh produsen benih dan dipersyaratkan oleh pemerintah melalui standar nasional Indonesia (SNI, sedang dalam tahap penggodokan final) untuk benih kelapa sawit. Benih palsu umumnya diproses dari biji asalan yang berasal dari tanaman komersial.
Seperti layaknya tanaman hibrida, benih yang diperbanyak dari tanaman komersial akan bersegregasi menjadi tanaman yang memiliki sifat seperti induk dan bapaknya. Tipe kelapa sawit dura yang dijadikan sebagai pohon induk umumnya memiliki cangkang (tempurung) tebal dan memiliki rendemen minyak rendah (< 18%), sedangkan tanaman tipe pisifera yang digunakan sebagai pohon bapak, meskipun tidak bercangkang, umumnya tidak menghasilkan tandan buah karena terjadi aborsi pada saat pembuahan.


Sumber :     Kushairi A., and Rajanaidu, N. Malaysian Palm Oil Board, XVI International Oil Palm Conference and Expopalma, Colombia 2009
                 
                  Razak Purba dan Witjaksana Ds., Pemulia PPKS Medan; pengawas benih  tanaman.blogspot.com

Daftar Sumber Benih di Indonesia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar