Sabtu, 26 Maret 2011

BIOFUEL DARI KELAPA SAWIT


 BIO FUEL

}     Apa biofuel itu :

}     Biofuels adalah jenis bahan bakar minyak yang terbarukan ( renewable fuel ) dihasilkan dari biji-bijian, minyak makan dan lemak hewan. Dua jenis yang dikenal dari jenis biofuels adalah bioethanol dan biodiesel.

}     Mengapa Biofuel :

}     Biofuel akan dapat membantu dalam diversifikasi pasokan bahan bakar minyak untuk transportasi, dan mengurangi ketergantungan sektor angkutan kepada minyak bumi yang akan semakin langka.

}     Biofuel menunjukkan potensi rendahnya emisi Green House Gas (GHG) dibandingkan dengan bahan bakar konvensional dari vosil (bensin dan solar atau LPG dan CNG).

}     Biofuels menekan emisi GHG yang dilepas ke atmosfir secara total  dalam well-to-wheels atau crop-to-car. Artinya Karbon Dioxida (CO2) yang dilepas ke udara oleh pembakaran biofuel pada kendaraan  akan  offset oleh CO2 yang diabsorb oleh tanaman untuk pertumbuhannya.

Sumber Sumber Biodiesel



Feedstock

Cost of Production US$/litre
Yield, ltr/Ha/year
GHG Emission
Reduction
ENERGY Input/Output
REMARKS
Rapeseed
0.60-0.82
1000-1200
48-60
9-9.5
Better used as food crop due to nutritive value  and low oil yield. Oil production cost /ha is high

Soybean
0.50-0.75
400-700
40-65
9-10.5
Better used as food crop due to nutritive value  and low oil yield. Oil production cost /ha is high

Palm
0.40-0.60
4500-6000
50-55
10-15
High oil yield and low production costs

Sunflower
0.50-0.65
800-1000
40-65
NA
Better used as food crop due to nutritive value  and low oil yield. Oil production cost /ha is high

Jatropha
0.30-0.50
2000-2500
40-45
5-10
Long gestation period and low yield.

Algae
3.0-4.0
150000-175000
NA
NA
Very high costs of cultivation and not proven on commercial scale


Source: Fulton et al, Gardner, US DOE, EIA; ICRISAT

}  Pilihan terhadap  Minyak Sawit sebagai  Sumber adalah :

}  Yield tinggi : 5-6 t/ha
}  Biaya Produksi Rendah : 0.4 to 0.6 USD/liter
}  Daya Tarik Pasar lokal tinggi
}  Pasar tujuan ekspor CPO dan Turunannya yang besar
}  Kesesuaian Tanah dan Iklim.
}  Banyak pilihan untuk di produksi dan dijual ke pasar :

-          Crude Palm Oil (CPO)
-          Refined palm oil, dan semua turunannya
-          Palm oil based Biodiesel
        
            Mass Balance of Palm Oil Processing

.
Uap Air 13.5%

---------------->

Air Cuci >>>


POME





^




14.4%


58.3%


RBDPO


I

I
Air Dillusi







18.18%


I

I
15%




RBDPL





I

I


CPO


22.82%





I

V


23.5%





RBDPS


I


Mesocarp




PFAD


4.63%


I


53.4%




0.98%





I




Fiber






TBS


Brondol



14.4%






100%

I
64.5%






PKO





I







23%





I




KERNEL








I


Biji

4,9%


PKM





I


11.9%




2.7%





V


11.9%

Cangkang










6.4%






Tandan kosong  21.0%











 

Menurut National Distribution Network , saat ini terdapat lebih dari 80 perusahaan penyulingan minyak goreng sawit (Refinery) di Indonesia yang tersebar di 11 propinsi di Sumatera, Jawa dan Kalimantan dengan total kapasitas produksi 7,79 juta ton pertahun. Pada industry margarine  dan shortening , CPO memberikan kontribusi sekitar 80% terhadap komponen bahan baku. Sementara pada industri sabun cuci CPO memberikan kontribusi sebesar 20% dan sabun mandi 80%. Pada saat ini terdapat paling tidak 17 industri margarine dan shortening di Indonesia.
Meskipun penggunaan CPO untuk industri sabun masih relatif kecil, penggunaannya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. 

Produk oleochemical yang diolah dari CPO terdiri dari Fatty Acid, Fatty Alkohol,Glyserine dan Stearic Acid. Produk ini memiliki kegunaan yang sangat luas untuk berbagai industri, seperti pembuatan deterjen, personal care, farmasi, industri PVC, pelumas pada industri tekstil, dan lain-lain.

Dibanding CPO, produk oleokimia memiliki nilai tambah lebih tinggi dan harga yang lebih stabil. Harga CPO berfluktuasi antara US$ 600 sampai dengan US$ 1000 per ton, sedang harga produk Oleokimia bisa mencapai hingga diatas US$ 2000 per ton. Namun demikian, penggunaan CPO untuk industri ini masih relatif rendah (sekitar 6,8%) karena kurang berkembangnya industri di dalam negeri. Indonesia baru memiliki 7 perusahaan oleochemical yang menggunakan 6,8% produksi CPO nya, dengan total produksi 609 ribu ton pada 2002. Bandingkan dengan Malaysia yang telah memiliki 22 pabrik oleochemical  (dan telah merencanakan penambahan 19 buah pabrik lagi) dengan total produksi 1,7 juta ton per tahun.

Penggunaan bahan baku minyak kelapa sawit untuk biodiesel memiliki tantangan dan kendala yaitu

  1. Harga CPO yang tinggi mengakibatkan biaya produksi biodieselmenjadi mahal.
  2. Pengembangan biodiesel mengalami keterbatasan modal untuk pengembangan usaha
  3. Insentif investasi belum berjalan dengan baik.
  4. Persaingan bahan baku dengan industri pangan/edible oil.
  5. Keterbatasaninfrastuktur industri penunjang pengembangan biodiesel.
  6. Kegiatan litbang terapanteknologi proses di Indonesia belum berkembang.
  7. Kualitas dan harga produk biodiesel dari negara-negara lain sangat kompetitif dan dapat mempengaruhi pasar. 

Dukungan Pemerintah

Seperti diketahui, industri kelapa sawit di Indonesia, bapaknya banyak. Untuk urusan perkebunan bapaknya Menteri Pertanian, urusan energi bapaknya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, regulasi industri  berurusan dengan Menteri Perindustrian dan lain lain. Menyikapi kendala dan tantangan ini, dan dalam rangka  menuju industri biodiesel, diharapkan pemerintah dapat membentuk Badan Khusus setingkat Menteri yang tugasnya membawahi Perkebunan (bahan baku biofuel/feedstock) hingga Industri Biofuel dan pemasarannya. Dalam hal ini, Badan Khusus akan berkoordinasi dengan Departemen terkait, yaitu Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berkoordinasi Departemen Perindustrian untuk kebijakan industri, Kementerian Riset dan Teknologi untuk penerapan teknologi, Departemen Dalam Negeri untuk perencanaan daerah, Departemen Keuangan untuk kebijakan insentif dan perpajakan, dsb. 

Melalui Badan Khuusus ini, Pemerintah baru akan dapat mengimplentasikan kebijakan untuk mendorong pengembangan pemanfaatan biodiesel, yang  antara lain meliputi :

  1. Penggunaan biodiesel dalam rangka diversifikasi energi untuk pencampur minyak solar atau sebagai salahsatu pengganti minyak solar dan mendukung pelestarian lingkungan.
  2. Penetapankebijakan harga biodiesel yang mendorong penggunaannya.
  3. Pengaturan pemberian kesempatan kepada Pemain di Industri Sawit untuk melakukan pengembangan pengolahan dan jaringan distribusi.
  4. Pemberian insentif yang jelas dan dilaksanakan

Disamping itu Badan Khusus harus memiliki rencana strategis dalam rangka mengembangkan biodiesel ini, antara lain :

  1. Mengembangkan kebun energi (energy plantations) yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku biodiesel/feedstock.
  2. Mengintegrasikan pengembangan biodiesel dengan kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan dan industri pengolahan biodiesel.
  3. Meningkatkan sosialisasi pemanfaatan biodiesel.
  4. Melakukan kegiatan litbang pembuatan biodiesel dari minyak sawit maupun non sawit.
  
Harga

Sebagian besar biodiesel mencapai konsumen akhir dalam bentuk campuran dengansolar (sampai B10). Misalnya  harga biodiesel B100 = Rp.10 000/liter dan harga solar Rp.4300/liter maka harga B10 = (0,9 x Rp.4300 + 0,1 x Rp.10 000) = Rp.5300/liter. Biodiesel B10 ini dalam masih jangkauan bila sebagian dana subsidi impor solar digunakan untuk insentif industri Biodiesel dalam negeri.

Produsen Sawit Dunia

1 komentar:

  1. Terimakasih Artikelnya sangat berguna, informasi yang bermanfaat.
    Bismillah, numpang iklan promosi yaa...

    Kami menjual :
    - Kaptan/Kapur Pertanian.
    - Kapur Dolomite
    - Kapur Cao / Kalsium Oksida.
    - Kapur CaOH2 / Kalsium Hidroksida.
    - Kapur CaCo3 /Kalsium Karbonat

    Untuk informasi lebih lanjut Silahkan hubungi :

    Bpk Asep
    081281774186
    085793333234

    Silahkan simpan nomor dan hubungi jika sewaktu waktu membutuhkan.

    BalasHapus